Perempuan memegang peran penting dalam perekonomian Indonesia, namun masih banyak yang belum mendapatkan akses terhadap pelatihan vokasi dan kesempatan kerja yang layak. Di sisi lain, volume sampah nasional yang terus meningkat menjadi tantangan lingkungan yang belum juga tuntas. Menariknya, dua isu besar ini bisa dijawab sekaligus lewat satu pendekatan yang sama, yaitu produk kerajinan daur ulang. Di tangan perempuan pengrajin terlatih, limbah tekstil, plastik, dan banner bekas bukan lagi sampah, melainkan bahan baku bernilai yang menghasilkan produk fungsional sekaligus membuka lapangan kerja nyata.
Material yang digunakan dalam kerajinan daur ulang jauh lebih beragam dari yang dibayangkan. Beberapa yang paling umum diolah antara lain:
-
Kain deadstock atau sisa produksi garmen
-
Plastik HDPE dan LDPE dari limbah industri
-
Banner dan spanduk bekas acara atau promosi
-
Kain perca dari rumah produksi fashion
Setiap material ini memiliki karakter unik yang justru menjadi nilai jual tersendiri, bukan kelemahan yang disembunyikan.
Proses produksinya juga melibatkan keterampilan nyata seperti menjahit, merakit, dan finishing produk, yang semuanya bisa dipelajari lewat program vokasi terstruktur. Ini yang membuat kerajinan daur ulang relevan sebagai instrumen pemberdayaan, bukan hanya sebagai tren produk ramah lingkungan.
Liberty Society menjalankan pendekatan ini secara konsisten. Setiap produk merchandise upcycled Liberty Society diproduksi oleh perempuan binaan Rumah Rangkai Karsa, program vokasi dari Liberty Society Foundation. Tas, pouch, dompet, hingga merchandise korporat berbahan limbah semuanya lahir dari tangan perempuan yang terlatih dan diberdayakan. Lebih dari itu, sebesar 10% keuntungan Liberty Society dialokasikan langsung untuk mendanai program vokasi ini, memastikan setiap pembelian berkontribusi nyata pada keberlanjutan pemberdayaan perempuan. Memilih produk Liberty Society berarti memilih dampak ganda, baik untuk lingkungan maupun untuk perempuan Indonesia.
